PERNAHKAH Anda
mencicipi teh terbaik dari bumi Indonesia? Sungguh ironis, teh terbaik dari
Bumi Pertiwi justru tak banyak beredar di pasar lokal. Masa kolonial telah lama
berlalu, tetapi ”penjajahan” teh masih berlanjut hingga sekarang. Ini
adalah sebuah potongan artikel yang saya temukan di situs perkebunan Nusantara
VIII. Artikel yang sama persis juga saya temukan pada situs kompas.com. Perasaan
saya sebagai masyarakat awam mulai teriris saat membaca paragraf pertama.
Saya lanjutkan membaca keseluruhan artikel tersebut. Saya berkesimpulan bahwa teh yang beredar di pasar lokal Nusantara ini adalah teh yang secara kualitas bisa dikatakan rendah. Mungkin dengan bahasa yang kurang menyenangkan adalah teh KW. Lalu kemana teh yang kelas premium ?
Saya
mendapat jawaban dari seorang teman alumnus IPB yang mengambil jurusan
teknologi pertanian. Saat ini beliau
bergerak dalam sebuah produksi teh yang bermafaat untuk kesehatan. Latar
belakang beliau berasal dari keluarga BUMN sebuah perkebunan. Jadi memang benar – benar mengetahui seluk
beluk seputar teh yang ada.
Menurut
Iwan Benny, STP. Teh yang berkualitas itu berasal dari pucuk
teh . Yang terbaik adalah pucuk 1,2 dan 3 yang disebut peko. Pucuk yang
dibawahnya lagi disebut pucuk burung.
Pucuk paling atas inilah yang kaya dengan senyawa katekin. Teknik
memetiknyapun juga khusus.
Lalu
kalo saat minum teh , kadang kita tersangkut batangnya , itu bagaimana? Nach, itu dia
Bu. Teh yang beredar di masyarakat kita itu sesuai dengan namanya adalah
teh rakyat. Cara memetiknyapun juga teknik massal. Sampai – sampai batang tehnya pun ikut
diambil.
Dari
sini mulai berpikir lalu seperti apa teh yang dikatakan berkualitas dan kaya
manfaat seperti yang ada pada artikel sehat dengan minum teh .
Iwan
kembali melanjutkan, teh yang baik adalah yang berasal dari pucuk daun. Bisa
kita lihat saat sudah menjadi teh yang dikeringkan. Benar – benar daun teh
tanpa batangnya.
Kebetulan
saya pernah dibawakan sebuah black tea yang menjadi bahan baku dari Raissa
Collagen tea produksi Raissa beauty.
Lalu saya bandingkan dengan teh yang saya miliki dirumah. Ternyata jauh
berbeda.
Jika
membeli teh hindari teh dengan aroma macam – macam. Karena menurut Iwan, teh
Indonesia secara aroma memang kalah dengan teh dari jepang dan Cina. Akan
tetapi teh Indonesia lebih unggul di kandungan katekinnya. Semua aroma asli
dari teh itu sifatnya volatile , mudah menguap. Jadi kalo menemukan teh dengan
bau yang sangat harum , justru hati – hati. Bisa jadi ada penambahan aroma
sintetis. Selain itu pilih teh yang tidak menggunakan rasa yang macam – macam .
Seperti duren, strawbery atau rasa – rasa yang lain. Karena pasti ada penambahan
essen rasa didalam teh tersebut.
Untuk
keluarga Iwan lebih menyarankan untuk membeli teh “ sampah” dibanding teh
celup. Katanya itu jauh relatif lebih
baik dibanding bentuk celup. Teh “
sampah” ini kalau istilah orang jawa sering menyebut teh kothok. Biasanya teh
ini memang penggemarnya orang tempo dulu dan kebanyakan orang – orang tua. Jika
membuat teh dari teh kothok ini harus direndam terlebih dahulu. Jadi sedikit
memerlukan waktu dibanding dengan teh celup.
Rata – rata teh kothok juga membutuhkan air dengan suhu yang lebih panas
dibanding teh celup untuk mendapatkan rasa teh yang mantap. Karena dianggap
ribet orang modern jarang yang menyukainya. Teh celup lebih dipilih karena
praktis serta pilihan rasanyapun lebih banyak.
Cara
menyeduhpun ada teknik khusus menurut pak iwan. Untuk teh “ sampah “ ini beri
air sedikit lalu buang airnya. Tujuannya adalah untuk membuang kotoran –
kotoran dan debu. Setelah itu baru tambahkan air sesuai selera. Dan siap untuk
menikmati secangkir teh yang sehat dan mantap.
Lalu
apakah teh yang selama ini kita konsumsi sudah benar – benar sehat ? Sekarang
Anda sudah tahu jawabannya dan sudah menemukan teh yang sehat.
No comments:
Post a Comment