Pernikahan merupakan peristiwa yang diidam-idamkan bagi setiap insan manusia. Di dalam islam pernikahan merupakan perintah Allah dan bernilai setengah dari agama. Banyak sekali ayat-ayat AlQuran yang memerintahkan menikah diantaranya dalam QS An Nisa; 3 “...maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil maka kawinilah seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki”.
Di dalam Alhadist dapat juga dijumpai diriwayatkan Baihaqi dari Anas bahwa Rosulullah SAW bersabda” Apabila seorang hamba menikah maka sungguh orang itu telah menyempurnakan setengah agama, maka hendaklah dia bertaqwa kepada Allah dengan setengah yang lainnya” (dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihut Targhib wa Tarhib)
Selain sebagai fitrah dan naluri setiap manusia, dengan pernikahan diharapkan mampu memenuhi kebutuhan baik fisik maupun psikis agar tercipta ketentraman dan kebahagiaan. Seseorang yang tidak menempuh pernikahan akan banyak mendapatkan resiko terjadinya penyakit. Misalnya gangguan jantung, tekanan darah tinggi, kanker prostat, penyakit menular seksual, stress, frustasi, depresi.
Namun jika pernikahan yang terjadi tidak mendatangkan kebahagiaan maka justru akan menurunkan tingkat kesehatan secara umum. Beberapa penyakit yang bisa berkurang dengan menikah justru akan lebih muncul misalnya jantung,hipertensi, stress, depresi dan lain-lain. Jika hal ini terjadi dan pernikahan sudah tidak mungkin dipertahankan (karena madharatnya lebih besar daripada maslahatnya) maka Islam masih memberikan salah satu solusi syareatnya adalah “cerai” secara baik-baik. Kemudian masing-masing pasangan bisa menjalani pernikahan untuk mencari kebahagiaan yang merupakan kunci status kesehatan seseorang.
PEMERIKSAAN KESEHATAN PRA NIKAH
Salah satu faktor untuk mencapai pernikahan yang sehat, maka kedua calon pasutri harus sehat. Baik sehat jasmani ( fisik) maupun ruhani ( psikis). Seorang suami harus mempunyai kesehatan yang baik jika ingin mendapatkan keturunan yang sehat, begitu juga dengan istri. Memilih calon istri yang sehat menjadi sangat penting karena calon keturunan yang akan dilahirkan dititipkan dalam tubuh seorang wanita. Beberapa proses reproduksi ,kehamilan, persalinan, dan tugas rumah tangga membutuhkan wanita dengan status kesehatan fisik yang prima. Nutrisi tubuh yang baik penting untuk persiapan saat dia harus membagi nutrisi tersebut saat hamil dan menyusui.
Status kesehatan yang prima baik fisik maupun psikis dalam pernikahan penting untuk menunjang kebahagiaan dalam rumah tangga. Antara fisik dan psikis kedua-duanya saling mempengaruhi dan tidak bisa dipisahkan. Masalah kesehatan fisik bisa menurunkan kesehatan psikis, begitu juga sebaliknya. Untuk meminimalkan resiko masalah kesehatan selama hidup berumahtangga ,maka dibutuhkan persiapan sebelum pernikahan. Penyakit penyakit yang dibawa dari suami/istri sebelum pernikahan akan mempengaruhi kesehatan pasangannya atau keturunanya. Jika hal ini terjadi jelas akan mengganggu jalannya pernikahan. Oleh karena itu langkah antisipasi perlu segera dilakukan agar masalah tidak bertambah besar yang menjadi balada rumah tangga.
Persiapan yang dilakukan untuk mengetahui kesehatan calon pengantin sebelum pernikahan sering disebut premarital general ceck up. Merupakan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan status kesehatan kedua calon mempelai, terutama mendeteksi adanya penyakit menular, menahun atau diturunkan yang dapat mempengaruhi kesuburan pasangan maupun kesehatan janin.
Pemeriksaan bisa dilakukan kapan saja atau 6 bulan sebelum berlangsungnya pernikahan. Tujuannya jika terjadi gangguan kesehatan masih ada waktu untuk mengatasi masalah kesehatan tersebut sebelum menempuh pernikahan. Terapi dan pengobatan yang dilakukan untuk meminimalkan resiko penyakit yang akan terjadi selama berlangsungnya pernikahan. Pemeriksaan itu meliputi ;
Pemeriksaan yang berhubungan penyakit yang bisa diturunkan
Penyakit yang harus diwaspadai diantaranya diabetes melitus
Permeriksaan penyakit yang ditularkan
Masuk dalam penyakit ini adalah TORCH (toxoplasmosis, rubella, citomegalovirus, herpes simplek), sipilis, GO, HIV aids, hepatitis B
Pemeriksaan yang berhubungan dengan penyakit genetika.
Penyakit yang harus diketahui misalnya thalasemia ( penyakit keturunan dimana sel darah merah mudah rusak),albino( gangguan pigmen warna kulit)
Pemeriksaan yang berhubungan dengan darah
Golongan darah, Rhesus ( berbahaya bagi janin jika terdapat perbedaan Rhesus antara suami istri) , hemofilia (gangguan pembekuan darah).
Pemeriksaan tersebut di atas idealnya ditempuh jika memang tidak memberatkan. Jika semua pemeriksaan tersebut tidak bisa ditempuh maka bisa dipilih pemeriksaan sesuai kebutuhan masing-masing individu berdasarkan resiko dan potensi penyakit yang mungkin muncul. Tentunya semua juga disesuaikan kemampuan saat ini ( terutama kemampuan financial/ kondisi keuangan).
Dengan pemeriksaan tersebut diharapkan calon pengantin mampu mengantisipasi potensi masalah kesehatan yang mungkin terjadi dengan memberikan terapi/pengobatan/menejemen penyakit sedini mungkin. Sehingga tidak mengganggu kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga yang dicita-citakan. Namun jika dengan pemeriksaan itu justru membuat masing masing pasangan menjadi terbebani, khawatir,stress dan takut maka bisa saja malah mengganggu kebahagiaan rumah tangga. Oleh karena itu pemeriksaan bisa ditunda sampai benar-benar siap. Masalah ini perlu dikomunikasikan terlebih dahulu dan dibicarakan diantara calon pasangan suami istri agar diperoleh kesepakatan . Jadi intinya kunci untuk meningkatkan kesehatan pada pernikahan tergantung kebahagiaan yang akan dirasakan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
Kemudian kebahagiaan apa lagi yang bisa di raih dari pasangan suami istri. Aktivitas seksual yang saling memuaskan di antara kedua pihak merupakan salah satu syarat tercapainya kebahagiaan. Aktivitas seksual bisa memberikan kebahagiaan jika kedua pihak bisa sama sama menikmatinya. Jika hanya salah satu yang diuntungkan sementara yang lain merasa tidak bisa menikmati, maka tidak akan meningkatkan kesehatan kedua belah pihak. Untuk mencapai kebahagiaan dari aktivitas seksual maka diperlukan syarat dan tahapan tertentu yang harus dilalui pasangan suami istri.
Syarat dan tahapan ini harus dikomunikasikan dengan baik agar saling mengerti dan tidak terjadi kesalahpahaman. Hal hal lain yang perlu diperhatikan sebelum melakukan aktivitas seksual adalah mengetahui anatomi alat reproduksi baik laki laki maupun perempuan serta bagian bagiannya. Sehingga pada saat aktivitas seksual berlangsung tidak akan bingung dan canggung. Ketidakpahaman bagian bagian organ seksual bisa mendatangkan banyak kesalahan yang akan mengganggu dan mengakibatkan kegagalan hubungan seksual.
Tahapan yang harus dilalui dalam hubungan seksual adalah;
1.Foreplay ; Tahapan pemanasan dengan membangkitkan ghairah seksual istri /suami dengan cara merangsang zona-zona erotis agar tercapai orgasme. Ciri ciri orgasme pada wanita diantaranya mengencangnya payudara, puting mengeras, berubahnya vagina menjadi kemerah-merahan, denyut jantung yang semakin cepat dan keluarnya cairan hangat dari vagina. Sedangkan orgasme pada pria terjadi pada puncak ereksi sebelum akhirnya terjadi ejakulasi. Tahapan ini disebut fore play. Kegiatan ini dilakukan sebelum menuju tahapan inti intercourse
2. Interplay/Intercourse; Fase ini dilakukan secara pelan pelan dan lembut agar masing masing bisa sama-sama mencapai orgasme (wanita cenderung lebih lambat dalam mencapai orgasme). Hal ini dilakukan agar suami istri bisa mencapai kepuasan maksimal dalam hubungan seks tersebut.
3. Afterplay ; Merupakan tahapan cooling down atau pendinginan setelah energinya terkuras. Pada tahap ini masing masing jangan langsung tidur dan tidak melakukan apa-apa. Pada fase ini bisa diisi saling mencurahkan puji-pujian dan isi hati terutama tentang proses hubungan seksual yang baru saja dilakukan. Bisa disertai saling berciuman, berdekapan, mengelus –elus dada, membelai sampai mandi bersama kemudian tidur. Bisa juga dilakukan hubungan seksual lagi, namun tetap melalui forplay lagi.
Setelah melakukan aktivitas seksual dengan jadwal sesuai kesepakatan,maka tibalah saatnya menuai hasil dari hubungan seksual tersebut yaitu kehamilan. Kehamilan bisa tercapai jika hubungan seksual terjadi pada masa subur wanita. Masa subur wanita bisa diketahui dengan beberapa metode diantaranya kalender, metode suhu basal tubuh dan lendir serviks. Bisa juga menggunakan alat seperti fertitest atau ovutest.
Singkatnya, begitu anak pertama lahir maka pasangan suami istri akan merasakan kebahagiaan yang tak terkira. Namun masih ada yang harus dipelajari yaitu cara mengatur kelahiran tapi bukan membatasi kelahiran. Sarana pengaturan jarak kelahiran bisa menggunakan metode alami, konvensional atau kombinasi. Pilihan masyarakat umum memakai obat-obatan/alat kontrasepsi. Misal suntikan depo progestin 3 bulan atau satu bulan, pil KB, IUD, sterilisasi, kondom,azl dan sebagainya. Namun pemakaian obat-obatan kontrasepsi perlu diperhatikan karena efek samping yang ditimbulkan juga tidak sederhana. Selain itu jika tidak hati hati memakainya bisa jatuh dalam keharaman karena akhirnya membatasi kelahiran, memutus kelahiran dan bahkan ada yang menyebabkan kematian janin atau calon janin di kandungan.
Terakhir bagi yang sudah siap menikah maka segeralah menikah. Namun jika belum merasa siap maka teruslah mempersiapkan diri sambil menerapkan perisai agar tidak terjatuh dalam perzinaan. Pengendalian seksual bisa dilakukan diantaranya dengan cara ; mencegah masuknya ransangan seksual melalui indera,mencegah datangnya fantasi seksual, mengaktifkan jasmani, dan berpuasa.
Jangan merasa aman dengan status ‘ ikhwan atau akhwat’ jika fitnah sudah terlalu besar dan sulit dikendalikan maka segerakanlah menikah.
Ditulis oleh dr. Dwi Anton.BC

No comments:
Post a Comment